
Play/Download
Dari Bagian 1
Penis Rai mulai membesar begitu dia melihat temannya yang sibuk
menyetubuhi Ananda dari belakang. Ananda mengocok penis Rai dengan kedua
belah telapak tangannya, lalu mencoba membuka lebar lebar mulutnya agar
muat menampung kepala penis Rai. James benar benar menikmati apa yang
tengah dirasakannya, memukuli bongkahan pantat Ananda, mendorong
pantatnya lebih ke depan lagi dan lagi agar penisnya bisa menyeruak
lebih ke dalam vagina Ananda lagi.
Serangan dua orang pria dari depan dan belakang yang baru saja beberapa
waktu lalu dikenalnya, tak ayal lagi menjadikan Ananda seperti sebuah
Rollercoaster yang dengan kecepatan tinggi bergerak naik, naik dan naik
menuju ke puncak kenikmatan persetubuhan baru dalam hidupnya. Ananda
meneriakkan orgasmenya seirama dengan bunyi becek yang keluar dari
vaginanya.
Tubuhnya terlihat menegang kaku dalam beberapa detik, matanya terpejam
rapat, kepalanya mendongak keatas meresapi setiap ledakan orgasme yang
didapatnya. Wajah dan tubuhnya yang telah basah oleh keringat menjadi
semakin basah dan berkilat oleh lampu dalam ruangan ini. Adegan dan
suasana ini tak terbandingkan meskipun oleh film peraih puluhan Piala
Oscar!!
Kepala James mendongak ke atas dan mulai mengosongkan sperma yang
memenuhi kantung bolanya ke dalam vagina Ananda. Kepala Ananda terlempar
menjauh dari penis Rai begitu James untuk yang terakhir kalinya
mendorong batang penisnya ke dalam vaginanya dan menghabiskan sisa
spermanya. Aku meraih orgasmeku sendiri bersamaan waktu James menarik
penisnya keluar dari vagina Ananda, sebuah lubang merah jambu nan basah
dan dihiasi dengan rambut kemaluan yang hitam pekat.
Sperma James perlahan meleleh keluar dari vaginanya. Ananda rebah
kecapaian di atas lantai, matanya terpejam, tubuhnya berguling
telentang, pahanya terlihat masih bergetar perlahan menikmati sisa
getaran kenikmatan yang ada. Rai mengambil bantalan sofa dan
menempatkannya di bawah pantat Ananda. Mata Ananda terbuka memandangnya.
"Jangan, tak mungkin aku dapat manampungmu".
Rai tak mengacuhkannya, dia memegang kedua kaki Ananda dan
menempatkannya diatas pundaknya, kemudian mulai memposisikan penisnya
mengarah ke vaginanya yang sudah basah kuyup itu.
"Tidak, jangan" dia merintih begitu Rai mulai mendorong penisnya memasuki vaginanya.
"Oh Tuhan, dia merobekku".
Rai tak bergeming, tetap bergerak. Rintihan Ananda berubah menjadi
racauan begitu Rai menggerakkan masuk keluar separuh batang penisnya.
Penis Rai terlihat basah oleh sperma James karenanya. Mata Ananda
terpejam rapat, dia gigit bibirnya kuat kuat.
Aku mendekatkan vaginaku ke wajah Ananda, memandang sperma dari vaginaku
yang jatuh menetes pada pipinya dan mulai menggesekkan vaginaku pada
mulut dan dagunya. Dengan bantuan James, Rai mengangkat kaki Ananda,
membentangkannya lebar lebar dan mulai mengerjai vagina Ananda. Kedua
buah zakarnya terayun ayun menghantam pantat Ananda. Sedangkan vaginaku
melumuri wajah naifnya dengan cairanku dan sperma Rai. Segera saja aku
merasakan gerakan lidahnya pada vaginaku begitu aku mengesksploitasi
wajahnya. Beberapa waktu kemudian aku berhenti menggunakan lidahnya
untuk memuaskanku dan duduk menyaksikan Rai memberinya persetubuhan yang
selama ini didambakannya.
Suara dan baunya sungguh sangat menakjubkan saat Rai menggerakkan
batangnya menembus vagina Ananda berulang kali. Akhirnya Rai berteriak
kalau dia tak sanggup lagi menahan lahar spermanya yang akan keluar.
Ditariknya penisnya keluar, dan mulai mengocok penisnya dengan tangannya
sendiri diatas vagina Ananda. Aku segera mendekat dan meraihnya ke
mulutku. Tembakan spermanya mengguyur tenggorokanku seiring denyutan
demi denyutan yang mengosongkan kantung spermanya.
Aku menatap Ananda, rambut kemaluannya yang hitam pekat dan bibir
kemaluannya yang kemerahan terlumuri oleh sperma Rai yang tak tertampung
dalam mulutku. Kutanyakan padanya apakah dia menyukai apa yang baru
saja didapatkannya, jawabannya hanya, "Oh Tuhan!".
*****
Aku mengisi kembali gelas anggur kami. Ananda bangkit dan duduk
menyilangkan kakinya, cairan yang mengalir keluar dari dalam vaginanya
dengan cepat membasahi karpet. James yang baru saja menyaksikan temannya
yang telah memberikan pada Ananda sebuah persetubuhan terhebat dalam
hidupnya, masih saja mengocok batang penisnya dengan pelan dan berkata..
"Masih ada satu hal yang kuinginkan darinya". Perlahan dia mendekati Ananda sambil terus mengocok penisnya.
"Buka mulutmu, sekarang", katanya.
Meskipun merasakan kekuatannya belum pulih benar, Ananda mulai menghisap
habis batang penis James dalam mulutnya. Dengan kedua tangan James
memegangi belakang kepala Ananda, James menggerakkan kepalanya
berlawanan dengan gerakan pinggangnya sendiri. James menahan kepala
Ananda agar tidak melepaskan penisnya saat dia menggeram orgasme.
Jakunnya terlihat jelas naik turun saat dia memenuhi mulut Ananda dengan
semburan spermanya hingga ada yang meleleh keluar dari samping celah
mulutnya.
Untuk beberapa saat keheningan merajai ruangan ini. Hanya suara nafas yang mulai mereda saja yang terdengar lirih..
Ananda bangkit berdiri dan mulai mengenakan pakaiannya diatas kedua
belah kaki yang masih gemetaran, celana dalamnya yang semula telah
kering segera saja menjadi basah kembali seiring dengan warnanya yang
berubah agak gelap karena cairan yang keluar dari vaginanya. Sambil
mengenakan gaunnya, dia mengatakan kalau dia harus segera pulang, dia
sedang menunggu telepon dari suaminya.
Para pria berbaring diatas lantai, beristirahat sejenak setelah
menyirami bukit birahi Ananda yang tandus. Beberapa menit setelah Ananda
berlalu dan meredakan nafas yang memburu, kualihkan perhatianku pada
para pria.
"Boys, hadiah telah kalian terima, sudah puas kan?, Ayo, cepat bawa senjata kalian kemari dan urus aku!".
*****
"Kalau Aryo mengetahuinya, oh.. Mati aku!!" seru Ananda.
"Berjanjilah padaku kalau ini akan selalu menjadi rahasia antara kamu dan aku," teriaknya.
"Tentu saja Nanda, jangan gusar gitu dong" kataku sambil membelai rambutnya.
"Gusar? Kamu bilang gusar? Demi Tuhan Yanna, aku merasa seperti seorang
pelacur. Aku mempunyai affair di belakang suamiku dengan bukan hanya
satu, tapi dengan dua orang pria dan kamu!" katanya, menepis tanganku
menjauh dari rambutnya.
Kini sudah satu minggu setengah sejak terakhir kalinya aku bertemu dan
bicara dengan Ananda. Aku tahu dia pasti malu atau katakanlah merasa
bersalah setelah melakukan hubungan sex untuk pertama kalinya di luar
ikatan perkawinannya. Dan itu merupakan pertama kali baginya dan sangat
menakjubkan!
Aku telah 'membagi' penis yang paling mengagumkan dari apa yang kumiliki
setahun belakangan ini dengan nama Rai dan James. Dengan tanpa
sepengetahuan Ananda dan berdasar kesetiaan mereka, itu adalah sebuah
rencana yang tak mungkin diskenario lebih baik lagi. Aryo, suami Ananda
sedang pergi ke luar kota beberapa hari untuk keperluan Gereja. Rai dan
James mampir ke tempatku. Mereka menjumpai aku dan Ananda yang sedang
berjemur di pinggir kolam renang. Ananda seperti biasanya, sangat naif
saat mereka mendekat tapi sangat anggun, mempesona, tinggi dengan rambut
hitam pekat, dan figur yamg mangagumkan.
Kemudian pada sore harinya mereka datang 'berkunjung'. Obrolan hanyalah
seputar bagaimana caranya agar mereka dapat menikmati keindahan tubuh
Ananda sepuas puasnya. Hanya dengan memikirkannya saja telah membuatku
basah dan ingin segera mendapatkan penyalurannya. Sepanjang malam itu
aku aku memperoleh rangkaian persetubuhan yang dahsyat dari mereka
berdua. Mereka dengan bercanda menyampaikan padaku bahwa mereka akan
membunuhku bilamana aku tidak membantu mereka untuk mendapatkan Ananda.
Kombinasi antara penis keras mereka dan mulit orgasme yang sudah tak
terhitung lagi membuatku berjanji untuk melakukan apa saja yang mereka
minta.
Pada hari kepergian suamiku dalam tugas luar kota berikutnya, mereka
datang lagi. Kali ini mereka membawa seorang teman baru lagi, Jay. Jay
adalah seorang Ambon yang pernah mereka janjikan dulu. Aku tahu Rai dan
James telah memanfaatkanku, tetapi apa yang kudapatkan dari mereka
berdua benar benar dapat memuskan kebutuhan biologisku.
Rai adalah seorang pria yang sangat mencengangkan dengan penis berurat
kerasnya sedangkan James tak sekeras Rai, tetapi dia mempunya kepala
penis yang lebih besar. Aku menikmati mereka berdua karena ukuran tak
begitu penting bagiku, yang penting mereka dapat secara rutin mengisi
kehampaan vaginaku diluar percintaan dengan suamiku sendiri tentunya.
Aku tak mempunyai masalah dalam urusan ranjang dengan suamiku, kehidupan
sex kami cukup panas. Tapi persetubuhan yang menyeluruh dan penuh dari
mereka membuatku selalu memperoleh ledakan multi orgasme berbeda dari
apa yang kudapat dari suamiku. Mereka berdua selalu bilang padaku bahwa
gadis gadis seumuran mereka tidak dapat memuaskan mereka seperti yang
kulakukan. Mereka sadar kalau vaginaku adalah milik mereka dan membawa
seorang teman baru untukku adalah cara mereka menunjukkan hal itu. Tak
perlu dikatakan lagi, aku memperoleh persetubuhan yang panas malam itu.
Jay pamit lebih dulu sedangkan dua penis kesayanganku 'menginap' sampai
pagi, menyetubuhiku lagi dan lagi hingga mereka pergi berselang hanya
sepuluh menit sebelum kepulangan suamiku. Sekujur tubuhku penuh dengan
sperma yang mereka tumpahkan barkali-kali. Ranjang penuh noda dan basah
karena sperma. Aku taruh spreinya ke mesin cuci dan segera mandi
membersihkan tubuhku saat suamiku datang. Kamar tidur kami penuh dengan
aroma sex dan terjadilah lagi, aku orgasme di dalam mulut suamiku dan
memberinya menu cairan asin dari vaginaku.
Kembali pada Ananda..
"Aku tak percaya telah membiarkan mereka melakukan semua ini terhadapku" gumam Ananda.
"Dan aku tak sanggup menatap langsung ke matamu setelah apa yang telah terjadi antara kita" sambungnya lagi.
Aku tahu apa yang diperlukan dalam percakapan ini.. Sebotol anggur. Satu
jam berlalu setelah aku menjadi seorang pendengar yang setia dan selalu
mengisi gelasnya jika telah kosong. Dapat kukatakan dari arah
percakapan ini setelah waktu terus berlalu, bahwa dia di sini tidak
untuk mengungkapkan betapa jalangnya dirinya tetapi lebih kepada alasan
yang lain lagi!!
Akhirnya dia bertanya..
"Apakah kamu sudah ketemu sama mereka lagi sejak itu?".
"Oh, belum" kataku berbohong.
"Oh Tuhan, aku sangat gelisah dalam dua hari ini," dia menambahkan, wajahnya jadi memerah.
"Aku tak pernah menyangka kalau ada yang begitu besar dan keras," katanya dengan menghindari menyebutkan 'kata' itu.
"Bisa aku tanya hal yang sangat pribadi Yanna?".
Aku mengangguk dan bilang padanya bahwa dia dapat bertanya padaku segalanya.
"Apakah kamu.. Bisexual? Apa kamu sering melakukannya dengan wanita?".
Aku tertawa kecil dan mengatakan padanya kalau aku tidak menganggap
demikian, tidak dalam perasaan yang sesungguhnya, tapi, ku katakan
padanya bahwa melihat dirinya dalam suasana yang menggairahkan seperti
kala itu menyebabkan semua itu terjadi begitu saja.
Setelah beberapa gelas anggur lagi, aku bertanya kepadanya..
"Jujur saja, kamu menikmati sore itu bukan?".
"Maksudku, itulah kenapa kamu berada disini sekarang, benar bukan?" sebelum dia dapat menjawab, aku menambahkan..
"Kamu mendapatkan orgasme sedikitnya selusin dengan Rai dan James dan
sekali saat melakukannya denganku. Sekarang katakan padaku dengan
sejujur-jujurnya, itu semua adalah kegiatan sexual yang selama ini kamu
impikan bukan?".
Pengaruh anggur telah bekerja. Nafasnya menjadi berat dan putingnya
tercetak jelas pada atasan ketatnya. Dia menganggukkan kepalanya. Rambut
hitam panjangnya tergerai menutupi payudaranya yang penuh.
Aku lebih menyudutkannya lagi dengan kembali mengingatkan dia akan
bagaimana bergairahnya James kala menyetubuhinya, dan bagaimana penis
keras Rai telah mengantarkannya pada orgasme yang berkepanjangan sore
itu.
"Ceritakan padaku Ananda, kamu dapat menceritakan segalanya"
"Kita berbagi rahasia".
"Katakan padaku bagaimana kau menyukainya, bagaimana kau membutuhkannya," aku mendesaknya.
"Demi Tuhan.., Ya!!" akhirnya dia mengakuinya.
"Aku memang menyukainya, aku melakukan masturbasi pagi dan malam dalam
minggu minggu terakhir. Semua ini begitu tabu dan penuh dosa. Aku merasa
begitu menginginkannya dan sangat ingin melakukannya lagi!".
Ke Bagian 3